Islam, sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia sekarang sedang menjadi bahan perdebatan yang menarik. Setelah beberapa tokoh dan gerakan Islam, menyebutkan bahwa Islam bukan cuma sekedar agama tapi juga merupakan sebuah ideologi. Seandainya perdebatan tersebut cuma seputar istilah dan bahasa tentu tidak akan terlalu bermasalah dan juga tidak terlalu penting untuk didiskusikan. Tetapi perbedaan cara pandang terhadap Islam tersebut pasti akan melahirkan konsekuensi baik bagi yang menyatakan Islam adalah sebuah ideologi atau Islam hanyalah sebuah agama.
Istilah ideologi, kalau ditilik dari sumbernya memang merupakan istilah baru dalam khazanah keislaman. Ideologi, atau dalam bahasa Arabnya disebut idiyuluji atau mabda’ seperti halnya beberapa istilah lain seperti aqidah, dharibah (pajak), dustur (UUD) dan qanun (UU) merupakan istilah serapan yang akhirnya diadopsi oleh kaum muslimin karena mengandung makna yang tepat terhadap berbagai khazanah Islam yang ada.
Ideologi atau mabda’ merupakan pemikiran paling mendasar, yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain. Pemikiran seperti ini hanya ada pada pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan, serta apa yang ada sebelum dan sesudahnya, juga hubungan antara ketiga unsur tersebut dengan apa yang ada sebelum dan sesudahnya (Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr Al-Islamy, hal: 9-10). Ideologi juga didefinisikan sebagai aqidah aqliyah (aqidah yang lahir dari sebuah proses berpikir/aqidah yang rasional) yang melahirkan nizham (peraturan) (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham Al-Islam, hal: 24).
Aqidah Islam kita yakini sebagai sebuah pemikiran mendasar yang lahir dari sebuah proses berpikir. Aqidah Islam mengajarkan bahwa yang ada sebelum kehidupan ini adalah Allah SWT, Sang Pencipta. Sesudah kehidupan dunia ini akan ada hari kiamat, surga dan neraka. Dan bahwa setiap aktivitas kita di dunia ini akan dihisab oleh Allah SWT di padang mahsyar kelak. Keyakinan terhadap aqidah Islam akan melahirkan keterikatan terhadap berbagai aturan syariat Islam. Karena syariat yang lahir dari aqidah Islam itulah yang akan menjadi standar oleh Allah untuk meminta pertanggungjawaban seluruh manusia pada saat mereka menjalani kehidupan dunia di akhirat kelak. Dari penjelasan ini, sangat jelas bahwa Islam sesuai dengan definisi ideologi dan wajarlah Islam disebut sebagai sebuah ideologi.
Munculnya istilah ideologi, khususnya istilah Ideologi Islam atau Islam ideologi merupakan hal yang wajar sebagai respon terhadap pendistorsian makna agama atau dien. Makna dien dalam khazanah bahasa Arab diartikan sebagai nizham al-hayah (sistem kehidupan) sesuai dengan firman Allah SWT:
”Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhai Islam sebagai agama (dien) kamu.” (Al-Maidah: 3)
”Dan Kami turunkan kepada kamu Kitab ini untuk menerangkan semua perkara.” (An-Nahl: 89)
Sekarang, agama dimaknai dengan makna yang sempit hanya sebagai ajaran ritual yang tak punya aturan tentang kehidupan dunia. Agama tak boleh diberi ruang untuk mengatur kehidupan dunia. Pandangan seperti ini bukanlah pandangan yang bebas nilai. Pandangan ini lahir dari aqidah sekularisme yang bertujuan memisahkan agama dengan kehidupan. Dan berdasarkan fakta historis, sekularisme lahir sebagai reaksi atas kekuasaan kaum gerejawan di Eropa yang membuat bangsa Eropa Kristen terpuruk dan lemah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Fakta kelemahan Kristen dalam mengatur kehidupan dunia kemudian dipaksakan ke semua agama termasuk Islam. Ini terlihat dari pernyataan Abdul Moqsith Ghazali bahwa Islam bukanlah sebuah sistem. Islam lebih merupakan kerangka etik moral yang bukan merupakan sistem, karena sistem itu harus dibentuk oleh manusia bukan Islam (dikutip dari situs Jaringan Islam Liberal: Islamlib.com).
Ketika satu agama tak mampu mengatur masalah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, lalu hal ini digeneralisir ke semua agama, termasuk Islam. Pernyataan ini tentulah sesuatu yang ahistoris. Ketika bangsa Eropa Kristen dalam masa kegelapan (dark age), umat Islam malah telah sangat maju di bidang sains dan teknologi dengan hanya menjadikan Islam sebagai aturan bagi kehidupan mereka. Ini yang sering luput dari pengamatan kita.
Ketika istilah agama didistorsi sedemikian rupa, wajar kalau umat Islam mengambil istilah ideologi, yang lebih sesuai dengan makna Islam yang sebenarnya. Islam yang didefinisikan sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan dirinya dan dengan sesamanya (Hafidz Abdurrahman, Islam Politk dan Spiritual, hal: 1) sangat tepat dimasukkan sebagai sebuah ideologi karena berasal dari sebuah pemikiran mendasar yang rasional yaitu aqidah Islam dan memiliki peraturan dalam semua aspek kehidupan.
Islam ketika dimaknai sebagai sebuah ideologi tentu akan berbeda dengan Islam yang hanya dimaknai sebagai agama ritual belaka. Ideologi Islam, seperti ideologi-ideologi yang lain akan berusaha melahirkan sebuah peradaban yang berasal dari ideologi tersebut. Sebuah ideologi juga tentu akan berusaha untuk mewujudkan sebuah negara yang akan menerapkan ideologi tersebut (Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham Al-Islam, hal: 12-13).
Sekarang, seperti kata Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam At-Takattul Al-Hizby ketika seseorang telah menginternalisasikan sebuah ideologi dalam dirinya, ia tidak akan mampu untuk menyimpannya. Bahkan Ideologi itu akan mendorong para penganutnya untuk mendakwahkannya. Kegiatan mereka akan senantiasa mengikuti ideologi itu, yakni berjalan sesuai dengan manhajnya, dan terikat dengan batasannya. Keberadaan mereka pun akhirnya didedikasikan hanya demi ideologi, demi dakwah kepada ideologi itu, dan untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkannya. Dakwah ini bertujuan agar manusia meyakini ideologi itu saja –bukan ideologi yang lain– dan bertujuan mewujudkan kesadaran umum terhadap ideologi tersebut.
Marilah kita satukan langkah, satukan perjuangan untuk menyuarakan ideologi Islam sampai hanya Islam lah yang menjadi ideologi di dunia ini. Allahu Akbar!!!
Ditulis oleh: Fatih Mubarak
Jumat, 30 Mei 2008
Hadist Ahad
sumber www.syariahonline.com
Pertanyaan:
Bagaiman hukumnya yang tidak mempercayai akan hadist ahad, namun termasuk hadis soheh (Bukhori/muslim)
Nana Mahdi
Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Dalam masalah perbedaan pendapat tentang hadits ahad, ada hal-hal yang perlu disepakati dan dipahami bersama terlebih dahulu, agar tidak terjadi perbedaan yang terlalu tajam.
1. Masalah hadits ahad adalah masalah dalam ilmu hadits, karena itu penjelasan tentang kriteria hadits ahad dan pengertiannya tidak boleh lepas dari disiplin ilmu hadits.
2. Istilah hadits ahad menurut ilmu hadits adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir dalam riwayatnya. Jadi istilah ahad dalam jenis hadits ini adalah lawan dari mutawatir. Dimana mutawatir itu adalah hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada setiap thabaqatnya yang mustahil mereka melakukan kebohongan secara sengaja. Karena itu hadits ahad adalah hadis yang sedikit lebih rendah dari mutawatir, namun tetap diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang tsiqah. Di dalam kelompoh hadits ahad ini ada hadits shahih, hasan dan dhaif.
3. Perlu diketahui bahwa jumlah hadits yang mencapai derajat mutawatir itu sedikit sekali. Sebagian ulama ada yang menghitungnya dan tidak sampai 200-an hadits. Selebihnya hampir semua hadits-hadits nabawi itu kebanyakan ahad. Tapi yang dimaksud ahad bukanlah diriwayatkan hanya oleh satu orang. Karena hadits itu di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan dan lainnya. Jadi meski namanya hadits ahad, tapi tetap kuat derajatnya karena hadits ahad itu banyak yang shahih atau hasan.
4. Dalam ilmu hadits, hanya hadits yang berkategori yang dhaif-lah yang tidak memiliki kekuatan sebagai dasar aqidah atau ilmu. Sedangkan untuk perkara yang berkaitan dengan fadhailul-a`mal, sebagian ulama membolehkan menggunakan hadits dhaif.
5. Kerancuan pemahaman ini sering dijadikan alat oleh musuh Islam untuk mulai menggerogoti pemahaman umat Islam terhadap kedudukan hadits nabawi.
Padahal sejarah Islam membuktikan bahwa gerakan dan metodologi kritik hadits yang dirintis para ulama dalam dunia hadits telah berhasil memilah dan memisahkan antara hadits palsu dengan hadits yang benar secara sangat ilmiyah dan bertanggung-jawab. Bahkan disiplin ilmu ini hanya ada satu-satunya dalam Islam. Sehingga hadits-hadits yang jutaan dan berserakan itu bisa dideteksi secara sangat cermat status dan kedudukannya.
Dan yang berada pada puncaknya adalah kumpulan hadits-hadits shahih yang telah berhasil diperas oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam ash-shahihain mereka. Disusul oleh kitab-kitab hadits lainnya hasil perasan para imam hadits lainnya yang juga memiliki hujjah dan kekuatan yang baik.
Oleh para zindiq dan musuh Islam, semua hadits hasil kerja panjang yang telah tersusun rapi itu ingin diacak-acak dengan cara yang jelek sekali, yaitu mengelabuhi generasi muda Islam ini dengan tuduhan dan statement yang sama sekali tidak ilmiyah dan terkesan ngawur. Karena mencampur-adukkan pengertian hadits ahad dan hadits gharib dan dha`if. Padahal ketiganya sangat berbeda jauh pengertiannya.
Atau menuduh bahwa Abu Hurairah itu pembohong, juga mengatakan bahwa Hadits baru ditulis ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat, termasuk mendiskriditkan Az-Zuhri dan juga Al-bukhari. Tapi semua tuduhan itu sudah patah dengan sendirinya sejak lama, terutama oleh merka yang mengenal ilmu hadits. Sedangkan orang awam yang tidak punya bekal sedikitpun tentang ilmu hadits, sering dengan mudahnya terkecoh dan melahap mentah-mentah tudingan para orientalis
Namun demikian, bisa atau tidaknya hadits ahad dijadikan landasan dalam aqidah, para ulama seringkali berdebat. Misalnya paham Asyariyah mengatakan bahwa hadits-hadits ahad tidak bisa dijadikan dalil untuk menetapkan suatu aqidah dan mendahulukan akal atas naql jika terjadi pertentangan serta mereka juga mentakwil ayat-ayat sifat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
Pertanyaan:
Bagaiman hukumnya yang tidak mempercayai akan hadist ahad, namun termasuk hadis soheh (Bukhori/muslim)
Nana Mahdi
Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Dalam masalah perbedaan pendapat tentang hadits ahad, ada hal-hal yang perlu disepakati dan dipahami bersama terlebih dahulu, agar tidak terjadi perbedaan yang terlalu tajam.
1. Masalah hadits ahad adalah masalah dalam ilmu hadits, karena itu penjelasan tentang kriteria hadits ahad dan pengertiannya tidak boleh lepas dari disiplin ilmu hadits.
2. Istilah hadits ahad menurut ilmu hadits adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir dalam riwayatnya. Jadi istilah ahad dalam jenis hadits ini adalah lawan dari mutawatir. Dimana mutawatir itu adalah hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi pada setiap thabaqatnya yang mustahil mereka melakukan kebohongan secara sengaja. Karena itu hadits ahad adalah hadis yang sedikit lebih rendah dari mutawatir, namun tetap diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang tsiqah. Di dalam kelompoh hadits ahad ini ada hadits shahih, hasan dan dhaif.
3. Perlu diketahui bahwa jumlah hadits yang mencapai derajat mutawatir itu sedikit sekali. Sebagian ulama ada yang menghitungnya dan tidak sampai 200-an hadits. Selebihnya hampir semua hadits-hadits nabawi itu kebanyakan ahad. Tapi yang dimaksud ahad bukanlah diriwayatkan hanya oleh satu orang. Karena hadits itu di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan dan lainnya. Jadi meski namanya hadits ahad, tapi tetap kuat derajatnya karena hadits ahad itu banyak yang shahih atau hasan.
4. Dalam ilmu hadits, hanya hadits yang berkategori yang dhaif-lah yang tidak memiliki kekuatan sebagai dasar aqidah atau ilmu. Sedangkan untuk perkara yang berkaitan dengan fadhailul-a`mal, sebagian ulama membolehkan menggunakan hadits dhaif.
5. Kerancuan pemahaman ini sering dijadikan alat oleh musuh Islam untuk mulai menggerogoti pemahaman umat Islam terhadap kedudukan hadits nabawi.
Padahal sejarah Islam membuktikan bahwa gerakan dan metodologi kritik hadits yang dirintis para ulama dalam dunia hadits telah berhasil memilah dan memisahkan antara hadits palsu dengan hadits yang benar secara sangat ilmiyah dan bertanggung-jawab. Bahkan disiplin ilmu ini hanya ada satu-satunya dalam Islam. Sehingga hadits-hadits yang jutaan dan berserakan itu bisa dideteksi secara sangat cermat status dan kedudukannya.
Dan yang berada pada puncaknya adalah kumpulan hadits-hadits shahih yang telah berhasil diperas oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam ash-shahihain mereka. Disusul oleh kitab-kitab hadits lainnya hasil perasan para imam hadits lainnya yang juga memiliki hujjah dan kekuatan yang baik.
Oleh para zindiq dan musuh Islam, semua hadits hasil kerja panjang yang telah tersusun rapi itu ingin diacak-acak dengan cara yang jelek sekali, yaitu mengelabuhi generasi muda Islam ini dengan tuduhan dan statement yang sama sekali tidak ilmiyah dan terkesan ngawur. Karena mencampur-adukkan pengertian hadits ahad dan hadits gharib dan dha`if. Padahal ketiganya sangat berbeda jauh pengertiannya.
Atau menuduh bahwa Abu Hurairah itu pembohong, juga mengatakan bahwa Hadits baru ditulis ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat, termasuk mendiskriditkan Az-Zuhri dan juga Al-bukhari. Tapi semua tuduhan itu sudah patah dengan sendirinya sejak lama, terutama oleh merka yang mengenal ilmu hadits. Sedangkan orang awam yang tidak punya bekal sedikitpun tentang ilmu hadits, sering dengan mudahnya terkecoh dan melahap mentah-mentah tudingan para orientalis
Namun demikian, bisa atau tidaknya hadits ahad dijadikan landasan dalam aqidah, para ulama seringkali berdebat. Misalnya paham Asyariyah mengatakan bahwa hadits-hadits ahad tidak bisa dijadikan dalil untuk menetapkan suatu aqidah dan mendahulukan akal atas naql jika terjadi pertentangan serta mereka juga mentakwil ayat-ayat sifat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
ISTIQAMAH DALAM BERAQIDAH TAUHID
Menjadi orang yang istiqamah dalam beraqidah tauhid merupakan dambaan setiap Mu’min sejak generasi dahulu (As Salafus Shalih) sampai generasi di akhir zaman. Betapa tidak, nilai dan derajat seseorang di sisi Allah Azza Wa Jalla terletak pada keistiqamahannya didalam memegang teguh nilai-nilai ajaran aqidah yang benar (Al Islam) sampai ia meninggalkan dunia yang fana ini.
Jaminan yang menantinyapun tidak tanggung-tanggung berupa tempat kenikmatan yang tiada taranya yaitu Syurga (Lihat Al Qur’an Surah Fushshilat(41) ayat 33. Dan diantara ketakutan yang paling sangat dari para sahabat Nabi sekalipun adalah takut mengakhiri hidupnya dalam keadaan tidak istiqamah dengan aqidah tauhid, padahal mereka itu dikatakan oleh Nabi sebagai “Khairun Naas” ( sebaik-baik manusia).
Untuk mencapai derajat itu kita mesti siap mengorbankan harta, perasaan, waktu, fikiran, bahkan jiwa sekalipun demi mempertahankan nilai yang sangat tinggi itu. Lihat firman Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat 142.
Konsep ini telah diperankan dengan sebaik-baiknya oleh para Nabi dan Rosul ‘Alaihimus Shalatu was Salam serta para Sahabat Radiyallahu ‘Anhum ‘Ajmain sehingga mereka itu dijadikan oleh Allah sebagai standar dan teladan dalam beristiqamah dengan aqidah tauhid.
Esensi Istiqamah
Nabi memberikan isyarat tentang esensi sesungguhnya dari sifat istiqamah di dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
Artinya : Sesungguhnya amalan-amalan itu terletak pada penghabisan (umur)nya.
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa esensi dari istiqamah adalah komitmen dengan aqidah tauhid dengan berbagai tuntutan dan konsewensinya sampai akhir hayat. Orang yang mati dalam keadaan seperti ini disebut juga dengan “Husnul Khatimah”. Itulah sebabnya seseorang yang sekarang ini melakukan amalan-amalan baik (amalan ahli syurga) tidak boleh terburu-buru kita klaim telah Istiqamah, sebaliknya orang yang sampai sekarang ini masih juga bergelimang dengan amalan-amalan ahli neraka tidak boleh pula dengan gegabah diklaim orang yang tidak istiqamah, karena ke Istiqamahan seseorang hanya dapat ditentukan pada akhir kehidupannya (Lihat Hadits ke 4 dari Kitab ‘Arba’in An Nawawiyyah disusun oleh Imam An Nawawi)
Satu hal yang perlu dipahami pula bahwa sifat Istiqamah ini terkait dengan keImanan dan keImanan berkaitan erat dengan hati (al Qalb) sehingga keadaan dan sifatnya juga bersesuaian dengan hati, diantara sifat yang menonjol dari hati adalah berbolak-balik. Nabi bersabda :
إنما سمي القلب من تقلبه
Artinya : dinamakan hati itu “qalb” karena (sifatnya) yang berbolak-balik. (HR. Ahmad).
Sifat hati yang tidak tetap inilah menyebabkan keadaan seseorang sulit diprediksi apakah ia akan tetap beriman (istiqamah) atau ia tidak berhasil mempertahankan keimanannya (tidak Istiqamah) sampai menginjak garis finish kehidupannya.
Urgensi Aqidah Tauhid
Sesuatu yang harus dipegang teguh (istiqamah) tentu memiliki nilai dan urgensi yang sangat penting, karena itu maka Aqidah Tauhid memiliki beberapa keutamaan dan peranan yang sangat penting yang harus dipegang teguh sampai Allah mewafatkan kita, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Aqidah Tauhid merupakan landasan utama diterimanya suatu amal.
Seseorang yang beramal dengan sebaik apapun amalnya dan sebesar apapun manfaatnya, namun ia tidak beraqidah tauhid maka amalan tersebut hanya akan menjadi sia-sia belaka, amalan tersebut tidak akan dinilai oleh Allah. Karena pada dasarnya orang yang tidak beraqidah tauhid adalah Musyrik. Allah menegaskan hal ini dalam firmanNya :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (QS.Az Zumar (39) ayat 65).
Lihat pula Al Qur’an Surah Ali Imran(3) ayat 85.
2. Sebab utama kebahagiaan dunia.
Aqidah Tauhid membekali kita unsur-unsur pokok kebahagiaan diantaranya adalah syukur,qana’ah, ridha dan shabar. Dengan bersifat ridha, qana’ah dan mensyukuri setiap pemberian Allah sekalipun sedikit maka hati kita merasakan ketenangan. Dengan bersifat shabar terhadap setiap musibah yang menimpa kita maka hatipun tidak terombang-ambing. Pada sisi inilah sehingga Nabi memberikan pujian kepada orang yang beraqidah tauhid (beriman) dengan pujian Manusia Ajaib :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya : Alangkah ajaib (menakjubkan) urusan orang beriman, sesungguhnya urusannya seluruhnya adalah baik,tidak ada yang seperti itu seorangpun kecuali bagi orang yang beriman, jika ia diberikan kelapangan maka ia bersyukur maka hal itu adalah kebaikan baginya, dan jika ditimpakan kepadanya kesulitan maka ia bersabar maka hal itu adalah kebaikan baginya. (HR.Muslim, Ahmad dan Ad Daarimi).
3. Syarat utama masuk syurga di akhirat kelak.
Orang yang mati dalam keadaan tidak beraqidah tauhid (syirik) maka Allah tidak akan mengampuni dosanya dan masuk ke dalam neraka kekal di dalamnya. Sebaliknya jika ia mati dalam keadaan beristiqamah dengan aqidah tauhid maka ia pasti akan masuk syurga. Allah menegaskan dalam firman-Nya di Surah An Nisa(4) ayat 48. Rasulullah صل اللة عليه وسلم bersabda :
مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ
Artinya : Barang siapa menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun, pasti masuk syurga, tetapi barang siapa menemui-Nya (mati) dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya, pasti masuk neraka (HR. Muslim)
Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali beraqidah tauhid dan mati dalam keadaan berpegang teguh dengannya.
Jalan Menuju Istiqamah
Agar kita dapat menjadi orang yang istiqamah dalam aqidah tauhid, maka ada beberapa jalan yang harus kita lalui, diantaranya :
1. Meluangkan Waktu untuk Mempelajari Ilmu Syar’i
Mempelajari Ilmu Syar’i dengan mendahulukan aqidah tauhid yang benar (Aqidah Tauhid As Salaf As Shalih) akan memberikan kemantapan dalam keyakinan kita, sementara mantapnya keyakinan merupakan modal utama untuk istiqamah. Lihat QS. Fathir (35) ayat 28.
2. Bergaul dengan teman-teman yang baik dan teguh aqidahnya
Kondisi keimanan kita sangat dipengaruhi oleh dengan siapa kita banyak berinteraksi. Rasulullah صل اللة عليه وسلم membuat perumpamaan yang sangat relevan dengan konteks ini dalam sebuah hadits yang artinya : Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti ( orang yang bergaul dengan ) penjual minyak wangi dan tukang pandai besi , maka penjual minyal wangi jika ia tidak menghadiahkan kepadamu minyak wanginya , kamu membeli dari padanya atau kamu mendapatkan bau harum darinya, dan dengan tukang pandai besi maka bajumu akan terbakar atau kamu akan mendapatkan bau busuk daripadanya. (HR Muttafaq Alaih).
3. Banyak melakukan amal shalih dan menjauhi perbuatan maksiyat
Amal Shalih memiliki pengaruh langsung dengan bertambahnya iman kita, demikian pula perbuatan dosa dan maksiyat akan menyebabkan lemahnya iman kita. Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil istimbath dari ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits-hadits Nabi dengan mengatakan bahwa :
الإيمان يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعاصي
Artinya : Iman itu akan bertambah dan berkurang, bertambah dengan amal-amal ketaatan dan akan berkurang dengan perbuatan maksiyat.
4. Tidak terpengaruh dengan tipuan daya dunia
Salah satu faktor yang senantiasa mengancam keimanan kita adalah pengaruh dunia, jika ia menjadi sesuatu yang kita prioritaskan dan kita jadikan standar penilaian maka dunia akan menelan Iman kita sehingga suatu saat yang tidak disadari kita mati dalam keadaan iman kita habis ditelannya. (Lihat QS.2: 96, 57 : 20 )
5. Takut dengan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk)
Takut dengan su’ul khatimah akan kita rasakan dengan mengetahui dan merenungi akibat-akibatnya demikian pula dengan banyak membaca kisah-kisah dari orang yang mati dalam keadaan su’ul khatimah. Munculnya rasa takut dengan su’ul khatimah akan menyadarkan dan memotifasi kita untuk semakin menguatkan aqidah tauhid.
6. Senantiasa berdo’a
Berdo’a kepada Allah merupakan sebab yang paling kuat untuk istiqamah di jalan-Nya, karena di tangan-Nyalah hati kita yang merupakan tempatnya aqidah berada, Ia berkuasa membolak-balik sesuai kehendak-Nya.
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِك َ
Allah mengajarkan kita do’a seperti yang disebutkan dalam QS. 3 : 8, demikian pula Rasulullah e mengajarkan kita do’a :
Artinya : Ya Allah Yang membalik hati-hati manusia balikkan hati kami untuk (senantiasa) taat kepadaMu. (HR. Muslim)-Muhammad Qasim Saguni-
Jaminan yang menantinyapun tidak tanggung-tanggung berupa tempat kenikmatan yang tiada taranya yaitu Syurga (Lihat Al Qur’an Surah Fushshilat(41) ayat 33. Dan diantara ketakutan yang paling sangat dari para sahabat Nabi sekalipun adalah takut mengakhiri hidupnya dalam keadaan tidak istiqamah dengan aqidah tauhid, padahal mereka itu dikatakan oleh Nabi sebagai “Khairun Naas” ( sebaik-baik manusia).
Untuk mencapai derajat itu kita mesti siap mengorbankan harta, perasaan, waktu, fikiran, bahkan jiwa sekalipun demi mempertahankan nilai yang sangat tinggi itu. Lihat firman Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat 142.
Konsep ini telah diperankan dengan sebaik-baiknya oleh para Nabi dan Rosul ‘Alaihimus Shalatu was Salam serta para Sahabat Radiyallahu ‘Anhum ‘Ajmain sehingga mereka itu dijadikan oleh Allah sebagai standar dan teladan dalam beristiqamah dengan aqidah tauhid.
Esensi Istiqamah
Nabi memberikan isyarat tentang esensi sesungguhnya dari sifat istiqamah di dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
Artinya : Sesungguhnya amalan-amalan itu terletak pada penghabisan (umur)nya.
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa esensi dari istiqamah adalah komitmen dengan aqidah tauhid dengan berbagai tuntutan dan konsewensinya sampai akhir hayat. Orang yang mati dalam keadaan seperti ini disebut juga dengan “Husnul Khatimah”. Itulah sebabnya seseorang yang sekarang ini melakukan amalan-amalan baik (amalan ahli syurga) tidak boleh terburu-buru kita klaim telah Istiqamah, sebaliknya orang yang sampai sekarang ini masih juga bergelimang dengan amalan-amalan ahli neraka tidak boleh pula dengan gegabah diklaim orang yang tidak istiqamah, karena ke Istiqamahan seseorang hanya dapat ditentukan pada akhir kehidupannya (Lihat Hadits ke 4 dari Kitab ‘Arba’in An Nawawiyyah disusun oleh Imam An Nawawi)
Satu hal yang perlu dipahami pula bahwa sifat Istiqamah ini terkait dengan keImanan dan keImanan berkaitan erat dengan hati (al Qalb) sehingga keadaan dan sifatnya juga bersesuaian dengan hati, diantara sifat yang menonjol dari hati adalah berbolak-balik. Nabi bersabda :
إنما سمي القلب من تقلبه
Artinya : dinamakan hati itu “qalb” karena (sifatnya) yang berbolak-balik. (HR. Ahmad).
Sifat hati yang tidak tetap inilah menyebabkan keadaan seseorang sulit diprediksi apakah ia akan tetap beriman (istiqamah) atau ia tidak berhasil mempertahankan keimanannya (tidak Istiqamah) sampai menginjak garis finish kehidupannya.
Urgensi Aqidah Tauhid
Sesuatu yang harus dipegang teguh (istiqamah) tentu memiliki nilai dan urgensi yang sangat penting, karena itu maka Aqidah Tauhid memiliki beberapa keutamaan dan peranan yang sangat penting yang harus dipegang teguh sampai Allah mewafatkan kita, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Aqidah Tauhid merupakan landasan utama diterimanya suatu amal.
Seseorang yang beramal dengan sebaik apapun amalnya dan sebesar apapun manfaatnya, namun ia tidak beraqidah tauhid maka amalan tersebut hanya akan menjadi sia-sia belaka, amalan tersebut tidak akan dinilai oleh Allah. Karena pada dasarnya orang yang tidak beraqidah tauhid adalah Musyrik. Allah menegaskan hal ini dalam firmanNya :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (QS.Az Zumar (39) ayat 65).
Lihat pula Al Qur’an Surah Ali Imran(3) ayat 85.
2. Sebab utama kebahagiaan dunia.
Aqidah Tauhid membekali kita unsur-unsur pokok kebahagiaan diantaranya adalah syukur,qana’ah, ridha dan shabar. Dengan bersifat ridha, qana’ah dan mensyukuri setiap pemberian Allah sekalipun sedikit maka hati kita merasakan ketenangan. Dengan bersifat shabar terhadap setiap musibah yang menimpa kita maka hatipun tidak terombang-ambing. Pada sisi inilah sehingga Nabi memberikan pujian kepada orang yang beraqidah tauhid (beriman) dengan pujian Manusia Ajaib :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya : Alangkah ajaib (menakjubkan) urusan orang beriman, sesungguhnya urusannya seluruhnya adalah baik,tidak ada yang seperti itu seorangpun kecuali bagi orang yang beriman, jika ia diberikan kelapangan maka ia bersyukur maka hal itu adalah kebaikan baginya, dan jika ditimpakan kepadanya kesulitan maka ia bersabar maka hal itu adalah kebaikan baginya. (HR.Muslim, Ahmad dan Ad Daarimi).
3. Syarat utama masuk syurga di akhirat kelak.
Orang yang mati dalam keadaan tidak beraqidah tauhid (syirik) maka Allah tidak akan mengampuni dosanya dan masuk ke dalam neraka kekal di dalamnya. Sebaliknya jika ia mati dalam keadaan beristiqamah dengan aqidah tauhid maka ia pasti akan masuk syurga. Allah menegaskan dalam firman-Nya di Surah An Nisa(4) ayat 48. Rasulullah صل اللة عليه وسلم bersabda :
مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ
Artinya : Barang siapa menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun, pasti masuk syurga, tetapi barang siapa menemui-Nya (mati) dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya, pasti masuk neraka (HR. Muslim)
Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali beraqidah tauhid dan mati dalam keadaan berpegang teguh dengannya.
Jalan Menuju Istiqamah
Agar kita dapat menjadi orang yang istiqamah dalam aqidah tauhid, maka ada beberapa jalan yang harus kita lalui, diantaranya :
1. Meluangkan Waktu untuk Mempelajari Ilmu Syar’i
Mempelajari Ilmu Syar’i dengan mendahulukan aqidah tauhid yang benar (Aqidah Tauhid As Salaf As Shalih) akan memberikan kemantapan dalam keyakinan kita, sementara mantapnya keyakinan merupakan modal utama untuk istiqamah. Lihat QS. Fathir (35) ayat 28.
2. Bergaul dengan teman-teman yang baik dan teguh aqidahnya
Kondisi keimanan kita sangat dipengaruhi oleh dengan siapa kita banyak berinteraksi. Rasulullah صل اللة عليه وسلم membuat perumpamaan yang sangat relevan dengan konteks ini dalam sebuah hadits yang artinya : Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti ( orang yang bergaul dengan ) penjual minyak wangi dan tukang pandai besi , maka penjual minyal wangi jika ia tidak menghadiahkan kepadamu minyak wanginya , kamu membeli dari padanya atau kamu mendapatkan bau harum darinya, dan dengan tukang pandai besi maka bajumu akan terbakar atau kamu akan mendapatkan bau busuk daripadanya. (HR Muttafaq Alaih).
3. Banyak melakukan amal shalih dan menjauhi perbuatan maksiyat
Amal Shalih memiliki pengaruh langsung dengan bertambahnya iman kita, demikian pula perbuatan dosa dan maksiyat akan menyebabkan lemahnya iman kita. Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil istimbath dari ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits-hadits Nabi dengan mengatakan bahwa :
الإيمان يزيد وينقص يزيد بالطاعة وينقص بالمعاصي
Artinya : Iman itu akan bertambah dan berkurang, bertambah dengan amal-amal ketaatan dan akan berkurang dengan perbuatan maksiyat.
4. Tidak terpengaruh dengan tipuan daya dunia
Salah satu faktor yang senantiasa mengancam keimanan kita adalah pengaruh dunia, jika ia menjadi sesuatu yang kita prioritaskan dan kita jadikan standar penilaian maka dunia akan menelan Iman kita sehingga suatu saat yang tidak disadari kita mati dalam keadaan iman kita habis ditelannya. (Lihat QS.2: 96, 57 : 20 )
5. Takut dengan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk)
Takut dengan su’ul khatimah akan kita rasakan dengan mengetahui dan merenungi akibat-akibatnya demikian pula dengan banyak membaca kisah-kisah dari orang yang mati dalam keadaan su’ul khatimah. Munculnya rasa takut dengan su’ul khatimah akan menyadarkan dan memotifasi kita untuk semakin menguatkan aqidah tauhid.
6. Senantiasa berdo’a
Berdo’a kepada Allah merupakan sebab yang paling kuat untuk istiqamah di jalan-Nya, karena di tangan-Nyalah hati kita yang merupakan tempatnya aqidah berada, Ia berkuasa membolak-balik sesuai kehendak-Nya.
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِك َ
Allah mengajarkan kita do’a seperti yang disebutkan dalam QS. 3 : 8, demikian pula Rasulullah e mengajarkan kita do’a :
Artinya : Ya Allah Yang membalik hati-hati manusia balikkan hati kami untuk (senantiasa) taat kepadaMu. (HR. Muslim)-Muhammad Qasim Saguni-
Langganan:
Postingan (Atom)